Minggu, 29 April 2012

Cuplikan2....Harga sebuah kegadisan

  1. "Aku merindukan pelukannya. Aku merindukan kecupannya di keningku ketika kami akan tidur di malam hari, ketika dia membangunkan aku untuk sholat subuh berjamaah, juga pelukan hangat dan serbuan ciumannya dipipiku, keningku, dan bibirku setiap kali dia pergi dan pulang kerja." 
  2.  "Aku ingin berkeluarga. Aku ingin memiliki keturunan. Salahkah aku memiliki keinginan-keinginan seperti itu? Apakah aku salah mencintaimu sehingga aku begitu ingin kamu menjadi suamiku?"
  3.   " Aku ingin menjadi istrimu sampai ALLAH mengambil nyawaku."
  4.   " Ya, aku marah! Sangat marah dengan kebohonganmu. Harga diriku sebagai seorang suami terkoyak. Bagaimana tidak? Sesuatu yang sangat sucimasa laluku?, yang seharusnya hanya kamu berikan padaku, suamiku...ternyata sudah lepas jauh sebelum kita menikah!"
  5.   "Aku mohon...jangan biarkan amarah dan harga dirimu merusak cinta yang ada untuk kita. Bukankah masa depan kita dengan cinta kita lebih berharga di bandingkan dengan kesalahan masa laluku?"

Senin, 27 Februari 2012

Chapter 3

Dear Yoga,
Apa kabar ga? Aku kangen sekali sam Vita. Sama kamu juga. Kapan aku bisa ketemu kalian lagi? Apa kalian nggak kangen sama aku? Kamu masih marah ya ga? Maafin aku ga. Bisa kan kita bicara baik-baik dan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dan hati yang dingin?
Yang mencintaimu,

Saskia


---more stories ---

Saskia,
Aku sudah memikirkan ini berulang-ulang, dan aku sampai pada keputusan, aku ingin bercerai. Maaf, aku tidak bisa menjalani hubungan yang didasari dengan kebohongan. Apalagi, kebohongan besar yang sudah kamu lakukan. Ternyata aku menikahi seseorang yang sudah tidak gadis lagi! Kak Sasa nanti akan menghubungimu untuk proses perceraiannya.

Yoga

---more stories---


“ Kamu tahu Ndi…Yoga adalah separuh nyawaku. Tanpa dia aku seperti enggan melanjutkan hidup ini. Tidak seperti ini. Aku akan rela jika dia pergi di panggil yang maha berhak. Tapi tidak seperti ini, aku tidak pernah menyayangi seorang pria seperti ini sepanjang hidupku. Dialah suamiku, hidupku, yang dengan dia aku ingin menghabiskan sisa hidupku Ndi! Kenapa kamu dengan teganya menghancurkan kebahagiaan yang sejak lama aku impikan. Kenapa tidak kamu cari kebahagiaanmu sendiri.

---more stories ---

Malam ini mobilku, jalan tol dalam kota, Jakarta, bulan, bintang, langit menjadi saksi tumpahnya air mataku. Entah sudah berapa kali aku sudah bolak balik mengendarai mobilku ini melintasi sepinya jalan tol dalam kota. Aku kecewa. Aku sedih. Ternyata hanya sebesar itulah Yoga mencintaiku. Ah, kalau saja bisa kuputar waktu yang berjalan ini ke masa lalu, aku ingin sekali kembali ke masa dimana aku dengan bodohnya percaya oleh bujukan dan rayuan gombal Andi yang akhirnya sekarang membuat hidupku berantakan.

Chapter 2

Berikut cuplikan dialog yang ada di chapter 2:

“ Nggak apa-apa. Nanya aja. Hmm…Sas, aku ngajak kamu keluar sebenarnya ada hal serius yang mau aku omongin ke kamu.”
“ Apa? Segitu seriusnya, sampai kening kamu berkerut-kerut begitu.”
Yoga langsung meraba keningnya
“ Mana? Nggak ah.”
“ Iya, tadi. Anyway, apa sih yang mau kamu omongin sampai-sampai kamu rela ngajak aku makan di restauran mahal kayak gini.”
“ Ah, kamu kok gitu sih Sas? Hargain dong usahaku. Kamu nggak tahu ya aku lagi deg-deg an nih.”
“ Deg-degan? Emangnya kenapa?”
“ Aduh Sas…you’re making it harder for me to say it. Gini…aku ni bukan cowok yang romantis Sas.”
“ Emang! Gak ada seujung-ujungnya romantis malah.”
“ Ya justru itu Sas, makanya aku jadi susah nih ngomongnya.”
“ Apa sih? Kok kamu kayak orang kebakaran jenggot begitu?”
“ Aku itu mau bilang kekamu kalau aku mau melamar kamu untuk jadi istriku. Gitu Sas. Ah, lega deh Sas, akhirnya keluar juga dari mulutku kata-kata itu.”
“ Ih! Ngelamar orang kok kayak beli barang sih, nggak ada romantis-romantisnya.”
“ Ya kan tadi aku udah bilang Sas. Aku bukan cowok romantis. Yang aku tahu, aku sayang sama kamu, aku mau deket-deket kamu terus. Aku mau punya anak, dan aku mau kamu yang jadi ibu dari anak-anakku. Ya, mau ya Sas. Aku susah jelasinnya Sas. Aku Cuma bisa ngerasain, yang aku tahu aku gelisah kalau sehari nggak telepon kamu, kangen kalau berhari-hari nggak ketemu kamu. Nah, itu namanya sayang, cinta kan Sas?”
“ Mana aku tahu! Judesku tidak juga berkurang. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku seperti itu pada Yoga, padahal kalau mau jujur, ingin rasanya aku meloncat-loncat kegirangan mendengar lamarannya itu karena aku sendiri merasakan apa yang Yoga rasakan. Jatuh cinta. Ya, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan hal ini. Sejak aku jatuh cinta pada Andi.

Kamis, 23 Februari 2012

About the novel....

Chapter 1

Seandainya semua orang berhenti bertanya kepadaku " Kapan nikah" ...dunia ini pasti terasa lebih INDAH... Karena , aku sendiri pun ingin menikah :(


Chapter 2

Maafkan jika aku harus tidak jujur, itu karena aku terlalu mencintaimu, terlalu ingin menjadi istrimu. Salahkah?

Chapter 3

Jika aku harus mengucapkan "Aku mencintaimu, menyayangimu dengan seluruh jiwaku" setiap hari kepadamu supaya kamu mau memaafkanku dan menerimaku kembali, maka akan kulakukan sayang...

Kamis, 02 Februari 2012

Chapter 1

Berikut adalah petikan2 cerita yang terdapat dalam chapter 1, novel "Harga sebuah kegadisan":

Beberapa kali aku sudah mulai menulis sms kepadanya.
“ Hai Ndi. How have you been? Just want to say thank you for the lunch.”
Tapi setelah aku fikir-fikir, ah…sepertinya norak sekali mengucapkan terima kasih untuk lunch yang sudah berlalu seminggu lamanya. Ku delete sms yang sudah kuketik tadi. Aku gelisah, resah, tak jarang aku berjalan mondar-mandir mengetik sms yang semula ingin aku kirimkan kepada Andi namun akhirnya aku hapus lagi dan batal mengirimkannya. TUHAN, mungkinkah aku jatuh hati?

-------- more stories--------

“Kamu mencintai aku Ndi?”
“Ya, Sas. Aku mencintai kamu. Kalau tidak mana mungkin aku mau memintamu untuk menjadi istriku? Kamu sendiri? Do you love me?”
“Hmm…well, ya.”
“Kok? Kayak nggak yakin gitu jawabnya?”
“Yes Ndi. I love you. Aku sayang kamu.”
“So? Will you take this ring and marry me?’
“Yes, I will.”
“Thanks Sas. Aku bahagia sekali malam ini.”


------more stories -------

Aku tidak bisa, atau mingkin tepatnya tidak mau menolaknya. Ya, karena jiwa mudaku yang sedang kasmaran. Awalnya memang kami hanya mengobrol biasa sambil nonton TV. Tapi, akhirnya Andi mendekatiku dan berhasil mengambil milikku yang paling berharga malam itu. KEGADISANku. Ya…dia berhasil membujukku menyerahkan kegadisanku kepadanya. Dia meyakinkan aku bahwa toh sebentar lagi aku akan menjadi istri sahnya, jadi tidak perlu ada yang di takutkan. Dia menghiburku ketika aku menangis karena menyesal telah menyerah pada rayuannya itu. Karena lelah menangis dan juga perjalanan kami sejak pagi yang juga melelahkan, aku pun tertidur.