Berikut adalah petikan2 cerita yang terdapat dalam chapter 1, novel "Harga sebuah kegadisan":
Beberapa kali aku sudah mulai menulis sms kepadanya.
“ Hai Ndi. How have you been? Just want to say thank you for the lunch.”
Tapi setelah aku fikir-fikir, ah…sepertinya norak sekali mengucapkan terima kasih untuk lunch yang sudah berlalu seminggu lamanya. Ku delete sms yang sudah kuketik tadi. Aku gelisah, resah, tak jarang aku berjalan mondar-mandir mengetik sms yang semula ingin aku kirimkan kepada Andi namun akhirnya aku hapus lagi dan batal mengirimkannya. TUHAN, mungkinkah aku jatuh hati?
-------- more stories--------
“Kamu mencintai aku Ndi?”
“Ya, Sas. Aku mencintai kamu. Kalau tidak mana mungkin aku mau memintamu untuk menjadi istriku? Kamu sendiri? Do you love me?”
“Hmm…well, ya.”
“Kok? Kayak nggak yakin gitu jawabnya?”
“Yes Ndi. I love you. Aku sayang kamu.”
“So? Will you take this ring and marry me?’
“Yes, I will.”
“Thanks Sas. Aku bahagia sekali malam ini.”
------more stories -------
Aku tidak bisa, atau mingkin tepatnya tidak mau menolaknya. Ya, karena jiwa mudaku yang sedang kasmaran. Awalnya memang kami hanya mengobrol biasa sambil nonton TV. Tapi, akhirnya Andi mendekatiku dan berhasil mengambil milikku yang paling berharga malam itu. KEGADISANku. Ya…dia berhasil membujukku menyerahkan kegadisanku kepadanya. Dia meyakinkan aku bahwa toh sebentar lagi aku akan menjadi istri sahnya, jadi tidak perlu ada yang di takutkan. Dia menghiburku ketika aku menangis karena menyesal telah menyerah pada rayuannya itu. Karena lelah menangis dan juga perjalanan kami sejak pagi yang juga melelahkan, aku pun tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar