Senin, 27 Februari 2012

Chapter 2

Berikut cuplikan dialog yang ada di chapter 2:

“ Nggak apa-apa. Nanya aja. Hmm…Sas, aku ngajak kamu keluar sebenarnya ada hal serius yang mau aku omongin ke kamu.”
“ Apa? Segitu seriusnya, sampai kening kamu berkerut-kerut begitu.”
Yoga langsung meraba keningnya
“ Mana? Nggak ah.”
“ Iya, tadi. Anyway, apa sih yang mau kamu omongin sampai-sampai kamu rela ngajak aku makan di restauran mahal kayak gini.”
“ Ah, kamu kok gitu sih Sas? Hargain dong usahaku. Kamu nggak tahu ya aku lagi deg-deg an nih.”
“ Deg-degan? Emangnya kenapa?”
“ Aduh Sas…you’re making it harder for me to say it. Gini…aku ni bukan cowok yang romantis Sas.”
“ Emang! Gak ada seujung-ujungnya romantis malah.”
“ Ya justru itu Sas, makanya aku jadi susah nih ngomongnya.”
“ Apa sih? Kok kamu kayak orang kebakaran jenggot begitu?”
“ Aku itu mau bilang kekamu kalau aku mau melamar kamu untuk jadi istriku. Gitu Sas. Ah, lega deh Sas, akhirnya keluar juga dari mulutku kata-kata itu.”
“ Ih! Ngelamar orang kok kayak beli barang sih, nggak ada romantis-romantisnya.”
“ Ya kan tadi aku udah bilang Sas. Aku bukan cowok romantis. Yang aku tahu, aku sayang sama kamu, aku mau deket-deket kamu terus. Aku mau punya anak, dan aku mau kamu yang jadi ibu dari anak-anakku. Ya, mau ya Sas. Aku susah jelasinnya Sas. Aku Cuma bisa ngerasain, yang aku tahu aku gelisah kalau sehari nggak telepon kamu, kangen kalau berhari-hari nggak ketemu kamu. Nah, itu namanya sayang, cinta kan Sas?”
“ Mana aku tahu! Judesku tidak juga berkurang. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku seperti itu pada Yoga, padahal kalau mau jujur, ingin rasanya aku meloncat-loncat kegirangan mendengar lamarannya itu karena aku sendiri merasakan apa yang Yoga rasakan. Jatuh cinta. Ya, rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan hal ini. Sejak aku jatuh cinta pada Andi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar